Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Oktober 2012

Reaktualisasi Semangat dan Esensi Sumpah Pemuda



28 Oktober 1928, atau dikenal dengan Sumpah Pemuda, diyakini menjadi salah satu tonggak pergerakan dalam membentuk Kesatuan Indonesia dalam melepaskan diri dan menyudahi perjuangan melawan Penjajah (Maaf, Indonesia tidak dijajah, Indonesia berjuang!!). 

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat, yaitu : Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. 

Kongres tersebut berhasil membangun semangat pemuda Indonesia dari pelbagai pelosok Nusantara untuk menyatukan suara demi daulatnya Indonesia. semangat yang di gambarkan melalui Sumpah Pemuda, yang masih kita kumandangkan sekarang, walau stahun sekali (mungkin).

Menilik Sumpah Pemuda secara Tekstual, aah...apalah arti dari itu? tak jauh berbeda dengan lirik-lirik lagu atau puisi penyemangat kebanyakan bukan? saya kira anda pernah berkata begitu. Silahkan ganti cara pemikiran anda, dibalik Sumpah Pemuda yang sering berkumandang tersebut, Segunung semangat besar dari gunung-gunung menggelegar bersatu. memuncak dan siap menyemburkan lahar pergerakan yang sangat luar biasa. 

Tuntutan akan adanya perubahan keadaan bisa jadi menjadi pemicu dan pemrakarsa berkumpulnya pemuda-pemuda Indonesia. penjajahan dan perlawanan maksimal bangsa ini berada dipuncak, namun tak kunjung menemui akhir kala itu. diperlukan adanya pemersatu, apalah arti satu lidi yang mampu membersihkan sepetak lapangan? bukankah beratus lidi yang disatukan akan lebih memperdahsyat kekuatan lidi tadi dalam kinerjanya? kira-kira seperti itulah pemicu adanya Sumpah pemuda (versi saya).

 Masih adakah semangat dan esensi semangat tersebut kini?

Secara momentum sumpah pemuda selalu diperingati, disekolah, di instansi pemerintahan baik pusat maupun daerah sepertinya masih rajin mengadakan ceremonial setiap 28 Oktober. Namun secara faktual, rasa-rasanya semangat dan esensi tersebut meluntur jika melihat beberapa kenyataan dunia pemuda masa kini. 

Tengok saja pemuda disekitar kita, besar mana prosentase pemuda dengan gerakan yang terkonsep dan tidak? atau simple saja, Banyak mana pemuda malas atau pemuda rajin? 
Indikator tak matematis berikut dapat jadi rujukan, Pemuda masa kini kiranya telah menikmati kemerdekaan buah perjuangan para Pahlawan, Jika dahulu pemuda menenteng senjata. tentu masa kini perjuangan akan berbeda. tantangan bukan lagi berupa musuh yang menghadang didepan dengan peralatan tempur dan militer. tantangan kini lebih kompleks, yakni merawat dan bagaimana mensyukuri kemerdekaan dan perjuangan yang telah diperjuangkan oleh pendahulu pemuda-pemuda tsb. sejauh mana hal itu telah diperjuangkan?

Tak semua pemuda tak memperjuangkan hal tersebut, masih tercatat pemuda-pemuda brilian yang mampu mengharumkan nama bangsa dalam berbagai bidang, baik dalam ranah regional maupun Internasional. hal tersebut jarang mendapat tempat dan publikasi yang terexplore merata. sehingga semangat yang mereka miliki rasa-rasanya jarang yang menyengat pemuda lain.

Kini, Rasanya tak perlu merubah teks Sumpah Pemuda. namun bagaimana mentrasnformasikan semangat dan esensi yang ada didalamnya. menjelmakannya dalam gerakan-gerakan kepemudaan guna lebih memperata young power yang dimiliki Bangsa ini,


Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat, yaitu : Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Read more at: http://www.attayaya.net/2008/10/sejarah-sumpah-pemuda-dan-museum-sumpah.html
Diambil dari tulisan aslinya di http://www.attayaya.net
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat, yaitu : Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Read more at: http://www.attayaya.net/2008/10/sejarah-sumpah-pemuda-dan-museum-sumpah.html
Diambil dari tulisan aslinya di http://www.attayaya.net
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat, yaitu : Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Read more at: http://www.attayaya.net/2008/10/sejarah-sumpah-pemuda-dan-museum-sumpah.html
Diambil dari tulisan aslinya di http://www.attayaya.net
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat, yaitu : Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Read more at: http://www.attayaya.net/2008/10/sejarah-sumpah-pemuda-dan-museum-sumpah.html
Diambil dari tulisan aslinya di http://www.attayaya.net

Jumat, 26 Oktober 2012

Idhul Adha, Sebuah Refleski Keseharian


Hari ini, 26 Oktober 2012 atau 10 Dzulhijjah 1433 H, Umat muslim dunia merayakan sebuah hari Agung. Hari yang disebut sebagai Idhul Adha. Layaknya pada Idhul Fitri, pada Idhul Adha Asma Ilahi begitu membahana dikumandangkan, disegala pelosok daerah, kota, desa, Tempat Ibadah, Rumah-rumah bahkan dalam hati kaum mu'min yang melafalkannya.

Jika kita kembali pada Sejarah Idhul Adha, tentu saja tidak akan lepas dari sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Alaihimassalaam). 

Ibrahim As. dilanda kegelisahan, dimana beliau takut karena dalam usia yang lebih dari 80an tahun, beliau belum dikaruniai seorang putra. Putra yang diharapkan menjadi penerus dan pembawa risalah Allah pada masa itu. dalam hari-hari nya Ibrahim As. selalu memanjatkan do'a : رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100)

Allah menjawab do'a tersebut. dikarunialah Ibrahim seorang putra, bernama Ismail As. tatkala Ismail beranjak besar. Allah merasa "cemburu", Allah Ingin menguji Ibrahim. Nabi Ibrahim tidur dan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, seseorang berkata kepada beliau “Wahai Ibrahim, tepatilah janjimu !”. Setelah terbangun pada pagi hari, berliau berpikir dan mengangan-angan, dan berkata pada dirinya “Apakah mimpi itu dari Allah ataukah dari syetan ?”. Kemudian hari itu dinamakan yaumut tarwiyyah atau hari tarwiyyah[1], karena tarwiyyah dalam bahasa arab artinya berpikir mengingat masa lalu.
Pada malam harinya beliau tidur dan bermimpi seperti mimpi yang pertama. Setelah terbangun pada keesokan hari, beliau mengetahui bahwa mimpi tersebut berasal dari Allah. Dan pada hari itu (tanggal 9 Dzul Hijjah) dinamakan yaumu arofah atau hari arofah[2]. Pada malam harinya beliau pun bermimpi dengan mimpi yang sama seperti sebelumnya. Setelah terbangun pada keesokan hari, beliau baru menyadari bahwa mimpi tersebut adalah perintah untuk menyembelih putra beliau. Kemudian pada hari itu (tanggal 10 Dzul Hijjah) dinamakan yaumun nahr atau hari nahr[3].
Ketika Nabi Ibrahim akan mengajak putranya untuk disembelih, Beliau berkata kepada istri beliau Hajar “Pakaikanlah anakmu dengan pakaian yang bagus, karena sesungguhnya aku akan pergi bersamanya untuk bertamu !”. Hajar pun memberi Nabi Ismail dengan pakaian yang bagus, memberinya wangi-wangian, dan menyisir rambutnya. Kemudian Nabi Ibrahim pergi bersama Nabi Ismail dengan membawa sebuah pisau besar dan tali ke arah tanah Mina.
Setelah sampai di tanah Mina, Nabi Ibrahim berkata kepada putranya, sesuai yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shoffat penggalan ayat 102 :
يا بني إني ارى في المنام أني اذبحك فانظر ماذا ترى
Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.
Maksudnya adalah Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail, bagaimana pendapat Nabi Ismail menyikapi mimpi tersebut. Mimpi seorang nabi adalah haq dan benar, apakah Nabi Ismail bisa bersabar atau ia meminta maaf sebelum dilaksanakan penyembelihan. Ini merupakan ujian yang diberikan dari Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, apakah Nabi Ismail bisa taat dan tunduk ataukan sebaliknya. Nabi Ismail pun menjawab sesuai yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shoffat penggalan ayat 102 :
يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصابرين
Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, Insya’allah engkau akan menemuiku termasuk orang-orang yang sabar
Ketika Nabi Ibrahim mendengarnya, beliau menyadari bahwa Allah telah mengabulkan do’anya, sesuai yang termaktub dalam Surat Ash-Shoffat ayat 100 :
رب هب لي من الصالحين
Ya Tuhanku, anugrahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholeh
 Sebuah Refleksi
 Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dan ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari dari sekelumit sejarah Idhul Adha. dimana Esensi utama adalah Pengorbanan yang tanpa pamrih kepada Allah SWT. Jika kita bermuhasabah pada diri kita, sudahkah kita pernah berqurban (dalam arti umum) dengan benar-benar mencurahkan segala ikhlas kita dijalan Allah?
Berbicara mengenai pengorbanan. dalam keseharian kita sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, kita kerap bersinggungan dengan hal itu. dalam hal profesi misalnya, kita mengorbankan segenap waktu dan fikiran kita guna memenuhi tuntutan, baik profit finansial, profesionalisme working dan memenuhi hajat keluarga. dalam hal dagang (ekonomi) kita tak jarang mengorbankan materi kita sebagai modal, melepaskannya demi berjalannya roda ekonomi kehidupan.
Namun, pernah kah kita berqurban atas nama Allah? rasa-rasanya jarang. rasa-rasanya tak tentu. bahkan kadang tak ingat. kita merasa sibuk diatur dunia, padahal seharusnya, dunialah yang harusnya kita atur, agar tak menggerus areal ke-akheratan. tidak melampaui batas kapling masa depan kita setelah mati.
 Kita lebih sibuk mengejar hal-hal duniawi agar tak lepas dari genggaman. bahkan tak jarang kita memaki Tuhan jika keduniawian tersebut lepas dan hilang dari hadapan kita, atau mungkin ketika begitu susahnya digapai. buta, kita menjadi buta karena dunia. lupa pencipta, lupa berqurban bahkan lupa mengucap syukur.
Patutnya kita malu, Ibrahim As. berpuluh-puluh tahun mengharap, berdo'a dan memohon putra demi kesinambungan ajaran Allah, namun harus mengorbankannya ketiak telah mendapatkannya. patutnya kita menunduk dan menangis, menelaah keiklasan Ismail As. memenuhi dan memperlancar perintah Allah yang diberikan pada Ayahnya, Ibrahim As. Allah Maha Kaya, tidak mungkin dan mustahil baginya tidak membalas apa yang diperbuat umatnya, baik atau buruk, kecil maupun besar.
Idhul Adha mengingatkan kita untuk belajar Iklas dalam berqurban dijalan Tuhan, materi dan keduniaan adalah Allah pengaturnya, hal tersebut hanya kendaraan kita didunia ini. tak ada salahnya menggunakan kendaraan tersebut untuk "membonceng" saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Semoga kita termasuk Umat Muhammad yang Sholih, seperti Ibrahim dan Ismail, Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H.
___________________



[1] Tarwiyyah artinya berpikir dan mengangan-angan kejadian masa lalu. Hari itu dinamakan tarwiyyah didasarkan pada Nabi Ibrahim yang berpikir, mengingat-ingat dan mengangan-angan atas nadzar (janji pada diri sendiri) beliau yang terlupakan.
[2] Arofah artinya mengetahui. Hari itu dinamakan arofah didasarkan pada Nabi Ibrahim yang mengetahui bahwa mimpi yang telah dialami beliau adalah wahyu. Hari arofah juga didasarkan pada nama tempat di mekkah yaitu arofah, dimana pada hari itu dilaksanakan wuquf di tanah arofah bagi para pelaksana ibadah haji.
[3] Nahr artinya menyembelih. Hari itu dinamakan nahr didasarkan pada perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Dan setiap tanggal 10 Dzul Hijjah dilaksanakan qurban yaitu penyembelihan binatang ternak seperti kambing, sapi, kerbau, dan unta. 

Rabu, 17 Oktober 2012

Dunia Global, Menantang Pendidikan

Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sesuai dengan tujuan yang sudah ada seharusnya sistem pembelajaran di Indonesia mampu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan yang tinggi[1].
Pendidikan adalah masalah bagi setiap orang. Setiap kali selalu saja muncul berbagai keluhan tentang pendidikan, baik kurikulumnya, sistemnya, tenaga pendidiknya, dan sebagainya. Setiap orang selalu menuntut dan menginginkannya lebih. Tidak mengherankan karena pendidikan harus berubah seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi. Sebaliknya, kedua hal ini pun sangat terkait dengan hal yang pertama. Dari berbagai keluhan dan ketidakpuasan, sebenarnya terungkap satu keinginan yang sama yaitu Pendidikan yang sesempurna mungkin untuk menghasilkan manusia-manusia yang cerdas, terampil, dan berkepribadian.
Adalah satu tantangan besar bagi para pemikir, perencana dan pelaksana pendidikan untuk merencanakan dan mengembangkan system pendidikan nasional yang relevan dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun. Tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu dan relevan telah mengisi pemberitaan dan pembicaraan diberbagai kalangan yang berkepentingan terhadap usaha peningkatan mutu dan relevansi pendidikan.
Saya jadi Teringat sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan, ketika mendengar “Krisis di dunia Pendidikan Islam dewasa ini”. Diskusi ini sebenarnya lebih bersifat unformal. Kawan saya mengatakan bahwa keadaan Pendidikan Islam tak ubahnya Liverpool, sebuah club sepak bola kasta utama di English Premier League. Bukan bermaksud mensejajarkan Pendidikan dengan Club tersebut. Namun lebih pada kemiripan nasib, Dimana keduanya pernah sama-sama menggenggam masa keemasan. Islam telah tercatat sejarah pernah mendominasi dunia dengan kedigdayaan ilmu pengetahuannya. Pun Liverpool pernah merajai Eropa dengan segudang prestasinya dulu pada kurun 1980-1990an.
Keduanya pun sama-sama bukan tanpa usaha dan upaya untuk meraih kembai “supremasi” yang pernah tergenggam, Liverpool mencoba melangkah dengan pelatih, pemain, management dan Fans untuk kembali mendigdaya, juga Pendidikan Islam dengan Pemikir, Praktisi Pendidikan, Pelajar dan Management Pendidikan juga mencoba mengembalikan Pendidikan Islam menjadi kiblat peradaban Dunia yang semakin kompleks dan modern.
Seputar krisis pendidikan Islam serta problem lain yang sangat menuntut upaya pemecahan secara mendesak. Khursid Ahmad menyatakan bahwa di antara persoalan-persoalan yang dihadapi dunia Islam masa kini, persoalan pendidikan adalah tantangan yang paling berat. Masa depan Islam akan sangat tergantung pada bagaimana dunia itu menghadapi tantangan ini[2]. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiannya, dalam membimbing, melatih,mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan cirri-ciri kemanusianya Dan pendidikan formal disekolah hanya bagian kecil saja daripadanya. Tetapi merupakan inti dan bisa lepas kaitanya dengan proses pendidikan secara keseluruhannya. Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidkan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula.yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Memang diantara permasalahan kependidikan tersebut terdapat masalah pendidikan yang sederhan yang menyangkut praktyek dan pelaksanaan sehari-hari, tetapi banyak pula diantaranya yang menyangkut masalah yang bersifat mendasar dan mendalam.
Gambaran umum kehidupan masyarakat masa kini, banyak kemajuan yang dirasakan, baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi ataupun komunikasi mulai dari yang sifatnya tradional hingga yang paling canggih. Di balik semua itu banyak pula dilihat, dirasakan dan didengar orang tua (langsung/tidak langsung) telah menyatakan keluhan terhadap keperihatinan terhadap anak-anaknya. Keluhan-keluhan tersebut meliputi :
·         Pekerjaan terbatas dan tenaga kerja yang melimpah ruah, pengangguran terjadi di mana-mana, premanisasi semakin menjadi-jadi dari kalangan kaum muda.
·         Pergaulan bebas sudah tidak bisa dibatasi.
·         Model-model pakaian yang memicu kepada gairah seks.
·       Pergaulan anak dan orang tua kurang memperhatikan moral, akan tetapi lebih mementingkan kepada materi dan keilmuan.
·       Persoalan agama hanya merupakan simbol-simbol ritual, sedangkan amaliyah dan syari'atnya kurang dikerjakan. Sehingga umat beragama nyaris kehilangan identitas keagamaannya.
·         Tingkat Kriminalitas yang tinggi

Jika melihat beberapa point diatas dalam realitasnya pendidikan Islam sebagai subsistem dinilai masih kering dari aspek pedagogis, dan lebih mekanistik dalam menjalankan fungsinya sehingga terkesan hanya akan melahirkan peserta didik yang ”kerdil” karena tidak memiliki dunianya sendiri. Konsep pendidikan telah dipaksa untuk menuruti konsep development-kapitalis yang terelaborasi sedemikian rupa, demi memenuhi kebutuhan industrialisasi[3], Inilah yang mensinyalir lahirnya pandangan bahawa Krisis sedang dialami oleh pendidikan Islam.
Mengenai Krisis di Dunia Pendidikan Islam ini, Saya jadi teringat sebuah tulisan Seorang Pembaharu Mesir, Prof. Dr. Yusuf Qardhawi
“Umat dan Bangsa ini tetap hidup dan akan terus hidup, Namun akan ada cobaan berupa sakit. Sakit seperti yang dialami bangsa/umat lainnya. Seperti Allah Menertapkan ketetapan pada Bangsa dan Umat lainnya. Dalam Surah Fathir ayat 43 disebutkan :

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبْدِيلًۭا ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحْوِيلًا
“…maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”

Bangsa ini tidak mati, tetapi akan mendapatkan serangan (sakit), saya telah bertemu dan salah satu saudara saya yang bijaksana dan benar yang berkata kepada saya: Penyakit ini sangat berbahaya (terhadap Bangsa dan Umat), maka berhati-hatilah dan jadi kami mencoba untuk memperlakukan mereka jika mereka memiliki obat.
Segala sesuatu pasti ada obatnya “ Segala penyakit yang diturunkan Allah, Pasti ada obatnya. Seperti halnya orang pandai yang mengajari orang bodoh (untuk menjadi pintar)”[4]. Ini berlaku pada penyakit fisik, moral, pada penyakit individu, kelompok dan Penyakit Umat atau Bangsa.”
Kedepannya, Dunia global yang kini digadang-gadang menjadi world of view, tentu saja akan berhadapan dengan dunia pendidikan. Siapkah dunia pendidikan mempersiapkan Relevansi dan tindakan guna menghadapi Dunia global? Persiapan tentu sudah dimulai dari sekarang, kesadaran akan hal tersebut menjadi sangat diperlukan. Dunia yang maju tanpa dibarengi dengan pendidikan yang kompeten dan melandas tentu menjadikan kehilangan arah dalam alur hidup. 
Bagaimana dengan anda?

[1] M. Fethullah Gulen, Menghidupkan Iman Dengan Mempelajari Tanda-tanda Kebesarannya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 142
[2] Machnun Husein, Pendidikan Islam dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta, Nur Cahaya, 1983, vii
[3] Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Graha Ilmu. 2007, Hlm 105

[4] . رواه أحمد (3922)، وقال مخرجوه: صحيح لغيره،  وابن ماجه في الطب (3438)، وصححه الألباني في الصحيحة (451)، عن ابن مسعود.